BELAJAR DARI MAKNEM

SAYA BELAJAR BANYAK DARI MAKNEM,

SEBUAH CATATAN DI #JUMATBERKAH

Saya belajar banyak dari Maknem, seorang perempuan tua yang usianya sepuh. Maknem tidak bisa mengingat secara persis usianya. Ditaksir kira-kira 70-an tahun. Maknem sudah ditinggal suaminya dua puluh tahun yang lalu dan dia kini hidup bersama anak semata wayangnya, di rumah yang sekaligus merangkap warung kecil untuk berjualan gorengan di sore hari.

Saya bersama tim BHSkin dan MISCELLA-G, perusahaan kecil yang saya dirikan, memang rutin setiap bulannya mengunjungi sosok –sosok sepuh seperti Maknem untuk berbagi sedikit rezeki. Yah, kami memang memiliki prinsip bahwa sebagian rejeki yang kita dapatkan adalah hak orang lain dan harus disalurkan. Sebuah konsep yang menurut saya bila diterapkan oleh semua orang akan membantu mengurangi kesenjangan sosial.

Pekan lalu kami mengunjungi beberapa sosok sepuh, salah satunya Maknem. Tapi benar bahwa banyak hal tak terduga yang terjadi dalam hidup & kejutan juga datang dari Maknem.

Saat saya dan tim BHSkin-Miscella-G mengunjungi Maknem, saya dibuat kagum oleh semangat dan prinsip beliau yang memilih untuk tetap mandiri. Sebenarnya amat wajar bila di usia seperti Maknem ini sudah sepenuhnya diurus oleh anak.
Tapi Maknem memilih untuk tetap berdikari, berdiri di atas kaki sendiri.

Kondisi Maknem sebenarnya sudah mulai rapuh dimakan usia. Maknem mengatakan bahwa kakinya sudah mulai tak kuat menopang beban tubuhnya dan beliau sudah sering merasakan sakit di persendian.

Tetapi semangat yang terpancar dari sorot mata Maknem dan dari cara beliau menyambut kami tidaklah menunjukkan kerapuhan itu. Semangatnya begitu menggebu dan mampu membuat saya dan tim saya yang usianya jauh lebih muda dari beliau, kagum dan sekaligus minder.

Kami sempat bertanya kepada Maknem, “Mak kenapa gak istirahat saja dari jual gorengan? Biar anak Maknem yang ngurus emak?”
Jawaban Mak Nem membuat saya dan tim kagum. Apa jawaban beliau?

“Jadi orang itu selama masih diberi usia sama Gusti Alloh gak boleh banyak-banyak tidur. Rejeki gak akan datang kalo kita tidur,” begitu ujarnya.

Jawaban dari seseorang yang sudah melewati banyak hal dalam hidupnya, namun tidak membiarkan usia meredupkan bara api semangatnya.

Banyak dari anggota tim saya yang kemudian menangis mendengar jawaban Maknem.

Saya dan tim malu karena di usia kami yang masih muda ini. Kami lebih sering menyerah; menyerah dengan keadaan; menyerah dengan rasa malas; dan menyerah dengan keterbatasan yang dihadapi.

Tujuan saya dan tim awalnya untuk membagikan sesuatu ke Maknem, tetapi malah Maknem yang membagikan sesuatu kepada kami. Sesuatu yang amat berharga dan Insha Allah akan jadi panutan dan pedoman kami.

Bahwa berapa pun usia, bagaimanapun kondisi yang saya hadapi, saya harus bisa bermanfaat untuk orang lain.

Terima kasih Maknem.. .